MELIHAT SITUS BERSEJARAH CANDI SUKUH DI PUNCAK GUNUNG LAWU

posted in: Traveling, Uncategorized | 7

Liburan long weekend biasanya kalian habiskan kemana ? menjelajah destinasi baru atau hanya menikmati tambahan jatah tidur siang dirumah ?

Bagi beberapa orang yang malas mengeluarkan banyak budget untuk liburan, saya sarankan untuk menikmati destinasi baru sambil belajar sejarah di kabupaten karanganyar. Letaknya berada di Puncak Gunung Lawu.

Bagi saya yang sekarang tinggal di Jakarta, jauh – jauh hari sebelum liburan panjang tiba, selalu mempersiapkan diri dengan membeli Tiket Pesawat Garuda Indonesia. Tiket Pesawat tersebut, biasanya saya pesan lewat Skycanner kalian bisa membelinya lewat sini : Tiket Pesawat Garuda. Selain lebih murah harga yang ditawarkan, saya nggak perlu repot – repot kalau harus mengganti tanggal. Karena tinggal klik klik, tanggal bisa kita rubah. Biaya penambahan juga relatif murah. Tergantung destinasi yang kamu tuju.

Kalo boleh jujur, disini saya mau berbagi cerita untuk pertama kalinya mengunjungi destinasi situs bersejarah berupa candi. Maklum, saya dulu orangnya kuper banget. Baru tau setelah saya pulang dari daerah puncak tawangmangu dan di persimpangan ngelihat ada tulisan di papan petunjuk jalan “candi sukuh” langsung cuss begitu saja buat ngikutin arah ke candi sukuh.

Karena ini baru pertama kalinya, saya rasa jalan yang terlewati sesuai papan penunjuk arah belum pernah saya lewati. Ternyata destinasinya benar – benar baru bagi saya.

Mobil yang di pakai untuk menuju ke candi sukuh ternyata lumayan berat gas yang ditekan untuk medannya yang cenderung naik tajam. Apalagi suasana yang tenang dan sepi membuat saya sedikit cemas. Bawaan parno juga hilir mudik menghampiri. Takut kalau tiba – tiba ada hal aneh yang menimpa.

Sekitar lima belas menit tanjakan, akhirnya sampai juga di pelataran candi sukuh. Karena datangnya terlalu sore, sekitar pukul tiga, suasana candi sukuh terlihat sepi. Cuma masih ada beberapa penduduk sekitar hilir mudik yang memang tinggal di kawasan tersebut.

Saya langsung saja membeli tiket di bagian loket yang tempatnya terpisah dari candi sukuh. Harga tiket masuk turis domestik Rp 7.000,- sedangkan untuk turis mancanegara Rp 25.000,-. Disitu, saya mendapat kain poleng bali yang wajib saya kenakan selama berada di area candi dan memberikan sumbangan sukarela untuk peminjaman kain. Saya juga meminta brosur untuk menambah wawasan.

Membaca brosur sambil jalan menyebrangi ke situs candi dari tempat loket, membuat saya sedikit kagum. Ternyata, wujud bangunan candi sukuh ini hampir mirip dengan tempat pemujaan yang ada di mexico, kukulkan namanya. Sekilas hampir sama.

candi sukuh lya amalia

Dulu, ternyata fungsi candi sukuh ini diperuntukan untuk “pengruwatan” yaitu menangkal atau melepaskan kekuatan buruk yang mempengaruhi kehidupan seseorang. Ternyata, ritual semacam itu, dari dulu memang ada rupanya! Saya kira cuma dilakukan hanya pada masa setelah masehi.

 

Sesampai di arena candi, saya langsung saja mengabadikan beberapa gambar dari tempat sudut tertentu yang tampak cantik. Banyak taman – taman yang ternyata memang di rawat di sekitaran candi. Relief – relief yang terukir meskipun tidak tampak seperti aslinya, namun masih berdiri utuh hampir sempurna menunjukkan lekukan pahatannya. Biasanya, kalau kita berjalan di sekitaran candi, setapaknya akan menggunakan paving, namun disini, menggunakan batu – batu besar tidak berbentuk namun memiliki pemisah yang rata secara alami. Lokasi candi yang bersih, membuat saya betah menikmati sekitar candi. Apalagi letaknya berada di kawasan puncak. Semakin sore, udara yang berhembus juga semakin dingin.

Saya melanjutkan perjalanan untuk menuju ke puncak candi. Untuk menuju ke puncah candi, harus melewati tangga dan ruang yang sempit. Awalnya sempat pesimis kalau tidak akan bisa menuju puncak, karena badan saya cenderung melebar kesamping, ternyata diluar dugaan. Saya mampu berjalan mulus menaiki sampai puncak. Jauh dari ekspektasi saya yang tidak mungkin.

Sesampai di puncak, nafas saya terdengar berat dan sedikit ngos – ngosan. Ah, kelihatan sekali kalau nggak pernah menggerakan kaki dan badan. Di sekitaran puncak candi, saya melihat ada sesajen yang dipasang di depan area tangga sewaktu sampai. Perlu hati – hati. Saya menikmati hembusan angin yang dingin sore itu di puncak candi, sembari menikmati pemandangan dari puncak candi. Tak lupa, mengabadikan beberapa gambar diri.

candi sukuh lya amalia

Hari semakin sore, petugas memberi tahu kalau area candi akan ditutup karena jam waktu buka sudah selesai. Saya segera menyerahkan kain poleng yang dipakai untuk dikembalikan ke area loket. Namun ternyata, petugas dengan baik hatinya mendatangi saya untuk meminta kain poleng yang saya pakai tanpa harus saya kembalikan ke tempat loket. Mungkin karena sudah terlalu sore.

Ternyata, tempat sebagus ini, belum pernah saya kunjungi semenjak kecil. Kemana saja saya selama ini ? yang gaung di telinga hanya tempat kekinian saja. Rupanya, situs bersejarah mampu membuat saya lebih mencintai indonesia lebih dalam dan tentunya melestarikan budaya daerah dan menyebar luaskan secara positif.

Kalau bukan diri kita sendiri yang melestarikan warisan sejarah, lalu, siapa lagi ?

Disclaimer : Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh ID Corners dan Skyscanner

7 Responses

  1. Fanny F Nila

    Candi2 di Indonesia menurutku juga paling bagus, dan banyak ragamnya, dibanding candi serupa yg ada di negara2 lain. Sejarahnya jg lebih beragam. Pernah pas aku ke siam rep, ditanya dong ama staff hotel. Dia kaget pas tau aku ke siam rep cuma utk ke danau tonle. Dia tanya kenapa ga ke angkor wat. Itu wajib bangettt.

    Dalam hati aku jawab, “di Indo candinya lbh banyak dan jauh lbh megah dr angkor wat mba :p” .

    • Lya Amalia

      iyaaa, setuju banget. kalau lagi jalan ke asia tenggara, lebih enakan selain wisata ke candi. soalnya candi di Indonesia bagus2 semua

  2. Himawan Sant

    Benar, bentuk candi Sukuh ini rada ada kemiripan bentuk dengan situs di Mexico.
    Konon, candi Sukuh seringkali digunakan untuk uji test seorang wanita.

  3. Kontengaptek

    Murah ya tiket masuknya..
    Jadi penasaran pengen kesana, belum pernah ke candi soalnya..
    Kecuali candi prambanan dan borobudur..
    Hehe..

Leave a Reply