Menjadi ibu rumah tangga atau bekerja pilih mana ?

Menjadi ibu rumah tangga atau bekerja pilih mana ?

Menjadi ibu rumah tangga atau bekerja pilih mana ? sering sekali Saya mendengar pertanyaan yang terlontar dari beberapa pandangan sesama wanita (meskipun beberapa teman pria juga sering menanyakan hal yang serupa). Namun, seringnya pertanyaan tersebut terlontar, justru membuat bingung beberapa wanita yang memang tidak kuat pondasinya dalam menentukan tujuan hidupnya. Seringnya, mereka melakukan pekerjaan yang seharusnya sangat ringan, malah menjadi beban yang sangat berat.

Contoh sederhana yang sering kita lihat biasanya para ibu pekerja selalu dipertanyakan :

  • “kerja terus dari matahari belum keluar sampai tenggelam, bapaknya emang enggak nafkahin?”
  • “anaknya jadi anak pembantu pasti”
  • “giliran anak sakit, nangis bombay. katanya wanita kuat”
  • “di kantor dandan menor. dirumah cuma dasteran. cantiknya buat orang lain, bukan suaminya”

dan contoh para ibu rumah tangga yang sering dipertanyakan :

  • “gak sayang ijasahnya tuh? kalau cuma jadi ibu rumah tangga, lulusan SD bisa”
  • “rumahnya berantakan, anaknya kurus, pasti orangnya males”
  • “nggak pernah dandan cuma dirumah doang, ati-ati suami kalau cuci mata diluar”
  • “jajan melulu, nggak bisa masak ya?”

sedikit obrolan yang biasanya menjadi mama shamming dikalangan para wanita. Kalau mau dijelaskan satu persatu, bakalan jadi panjang yang ada. ujungnya nggak ada habisnya.

Sama seperti pengalaman Saya pribadi saat beberapa orang yang “nggak terlalu deket” lebih kepo dengan apa yang jadi pilihan saya. Padahal, kehidupan saya sendiri rasanya tidak ada yang menarik.

Kalau ditanya soal menjadi ibu rumah tangga atau bekerja, buat saya sendiri tergantung pelakonnya masing-masing. Kalau dari sudut pandang Saya pernah mengalami dua-duanya, lebih enakan menjadi ibu rumah tangga tapi….. tiap anak dipegang baby sitter, rumah ada art yang ngurusin, supir juga ready. waduhh, kayak anak sultan jadinya. Hehe, bayangin dulu boleh kan ?

Sepengalaman saya, menjadi ibu kantoran hal yang paling berat adalah meninggalkan anak jauh dari jarak kita. Kenapa ? Tuhan kan ciptain anak semenjak di dalam rahim ibu, yang mana selama kurang lebih 9 bulan dibawa kemana-mana. Itu berarti, ada ikatan batin antara ibu dan anak. Sebenci-bencinya atau semarah-marahnya seorang ibu kepada anak yang diluar kendali (nakal) pasti akan luluh juga dengan sendirinya tanpa anaknya meminta maaf. Belum lagi kalau anak sakit. Seorang ibu mana yang nggak kawatir kalau anaknya sakit. Dan yang paling harus beli stok rasa sabar adalah saat kerjaan di kantor kebetulan kena omelan atasan-kerjaan gak kelar-temen sekantor gak bersahabat, pas sampe rumah anak malah ngadi-ngadi, api naga merah pengen meledak pasti rasanya. Dan masih banyak hal yang lainnya.

Kalau dari sudut pandang saya selama menjadi ibu rumah tangga kali ini tanpa art, harus punya ekstra kekuatan dan rasa sabar yang tinggi intinya. Kenapa ? karena saat membuka mata dari pagi hingga anak terlelap, cuma butuh kekuatan dan kesabaran yang bisa diandalkan. Simpel donk ? Oh, tidak! Menjaga dan merawat anak lebih susah daripada menghadapi orang dewasa di kantor. Apalagi jika berurusan dengan anak yang belum mengerti maksud dan omongannya itu apa. Belum lagi saat anak nggak bisa ditinggal kemana-mana (nahan ke kamar mandi, nahan makan, nahan nggak ngantuk). Semuanya pasti ada plus dan minusnya.

Dan banyak yang bilang kalau menjadi ibu rumah tangga atau bekerja perlu ekstra kewarasan. Kewarasan disini adalah soal psikolog. Bisa jadi seorang ibu butuh refreshing atau me time untuk mengelola kondisi psikisnya. Ingat, ibu juga manusia. Rehat sejenak selama satu hari full adalah bonus yang bisa dirasakan oleh para ibu. Faktanya, banyak yang melupakan hal ini. Padahal, ini lebih penting dibandingkan harus gaspol bekerja rutin mengurus kerjaan atau rumah dan anak. Membicarakan hal ini kepada pasangan memang kunci utama komunikasi dalam rumah tangga supaya harmonis. Bukan begitu ibu-ibu?

Baca juga : menjaga daya tahan tubuh balita di era new normal

Namun, dibalik itu semua, ada beberapa tips untuk bisa menjadikan pilhan menjadi ibu rumah tangga atau bekerja yang baik. Lantas, bagaimana ?

menjadi ibu rumah tangga atau bekerja pilih mana

Beberapa tips menjadi ibu rumah tangga atau bekerja yang baik :

On time

Mau ada badai topan, angin beliung, harus kita disiplinkan ke diri kita sendiri untuk tepat waktu. Karena waktu satu menit sudah sangat berarti. Ketinggalan satu menit saja, semua rencana hanya akan menjadi ekspektasi semata.

Bagi tugas

Weekend sama suami ? Meskipun mengerjakan keadaan rumah yang berantakan karena mainan anak, nggak ada salahnya untuk bagi tugas. Hitung-hitung sambil berolahraga ringan yang bisa mengeluarkan keringat berlebih

Sabar dan Bahagia

Tiap pasangan saat menjadi ibu rumah tangga atau bekerja memang harus sedia stok sabar dan bahagia yang banyak. Kenapa ? karena drama kehidupan berumah tangga memang tidaklah mudah. Harus saling mengerti dan saling support tiap pasangan. Supaya tercipta hal yang harmonis. Biasanya ikatan pasangan yang sabar dan bahagia akan menular ke kondisi psikis anak.

Agendakan liburan

Me time bersama keluarga yang paling enak dan menyenangkan memang liburan. Menghabiskan akhir pekan bersama keluarga, bercengkerama hangat dan bertukar pikiran antara orang tua dan anak membuat hal yang sebelumnya tidak dipahami jadi mudah dimengerti. Liburan juga nggak harus jauh-jauh. Secukupnya dana yang kalian miliki. Yang penting kumpul smaa keluarga, sudah menjadi moment terindah untuk melepas lelah

Kelola keuangan

Rumah tangga kuncinya cuma satu. Kelola keuangan dengan baik dan benar. Kalau ingin melakukan hal yang nggak penting bisa saja, asalkan, aturan soal keungan rumah tangga harus difikirkan dengan baik dan matang. Jangan sampai terlilit hutang hingga dikejar-kejar debt collector.

Hidup sederhana

Hidup sederhana disini bukan berarti hidup memiskinkan diri loh, ya! Hidup sederhana adalah hidup yang bukan berfoya-foya. Namun tau kapasitas kapan untuk menempatkan diri sendiri. Jangan sampai kita terbawa arus gaya hidup yang bisa membuat kita terlena. Ingatlah, masih banyak hal yang dipikirkan untuk masa depan anak kita.

Memang, polemik sekali membahas persoalan menjadi ibu rumah tangga atau bekerja yang baik. Karena pada dasarnya, setiap pilihan pasti ada plus dan ada minusnya. Tinggal diri kita pribadi membangun fondasi kepercayaan dan keiklasan untuk menjalaninya. Selalu ingatlah bahwa banyak sekali jutaan orang diluar sana yang menginginkan posisi kalian saat ini.

Jadi, masih bingung untuk pilih menjadi ibu rumah tangga atau bekerja ?

Baca juga : gaya hidup di film yang patut dicontoh