Menjadi ibu baru yang sebenarnya

Menjadi ibu baru adalah obrolan menarik beberapa bulan yang lalu, yang ramai diperbincangkan beberapa teman dekat saya. Tidak secara kebetulan, tapi memang karena saya dan teman-teman sedang pada fase, menjadi ibu baru setelah melewati tahap pernikahan. Tidak mudah ternyata, tapi juga tidak terasa susah. Asalkan dijalankan dengan tulus iklas, menjadi ibu baru terasa lebih ringan, bukan berarti mudah loh. 

Beberapa hal yang saya dan teman-teman perbincangkan saat bertemu, tidak jauh-jauh dari hal menyusui, mpasi, jam tidur anak, perkembangan anak dan yang tidak terlalu penting tapi dibutuhkan adalah soal pekerjaan. Ngomongin soal pekerjaan, saya dan teman-teman kebetulan memang sudah memutuskan untuk resign. Disisi naluri keibuan kita muncul untuk mengurus anak sendiri, disisi lain karena kondisi mengharuskan untuk sementara LDR dengan suami. Maklum, suami posisi bekerja di luar kota semua. Kalau ditanya sampai kapan ? Entah, kita ikuti arusnya dulu sebelum sampai ke muara.

Hal yang memang harus kita pertimbangkan matang-matang saat akan menjadi ibu baru adalah memiliki bekal kesabaran dan keiklasan yang harus luar biasa besar. Kalau ditanya seberapa besar ? Sepertinya akan terjawab sampai kita tutup usia.

Kelihatannya menjadi ibu baru itu sangatlah mudah. Tergantung. Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Tergantung bagaimana kita menyerahkan semua tugas-tugas ibu pasca melahirkan kepada siapa. Tergantung juga bagaimana kita memutuskan mana yang terbaik untuk anak kita atau untuk diri sendiri. Semuanya pasti akan memilih untuk kebaikan anak. Tapi, kenyataannya, fakta dilapangan, tidak selamanya untuk kebaikan anak. Semua mengacu pada “kahanan” kalau orang jawa bilang. Kembali lagi kepada keputusan masing-masing pihak keluarga atau diri sendiri dan pasangan.

MENYUSUI

Menjadi ibu baru pasca melahirkan, hal pertama yang harus ekstra dititikberatkan adalah menyusui. Saya sendiri kalau membahas soal menyusui dengan teman-teman memang harus butuh kemauan tingkat tinggi supaya ASI yang ada lancar keluarnya, tanpa ada drama. Sebenarnya, Tuhan itu menciptakan segalanya secara sepaket lengkap komplit tanpa ada celah sedikitpun. Dari soal menyusui saja, cairan ilahi -sebut saja ASI- sudah dibikin sesempurna mungkin. Mulai dari manfaat antibiotik, kecerdasan, mengeyangkan, antibodi dan manfaat yang lain untuk bayi selama dua tahun.

Beberapa teman yang sampai saat ini tidak bisa mengASIhi bukan karena ASInya tidak keluar. Tapi karena tidak ada usaha keras untuk bisa mensugesti diri sendiri agar ASInya keluar lancar. Rata-rata karena percaya akan mitos orang jaman dahulu soal menyusui. Seperti menyusui payudara kanan akan mendapat jamu, sedangkan yang kiri hanya mendapat nasi. Hmmm… perlu diluruskan sekali lagi. Kandungan ASI baik di payudara kanan atau kiri sama saja. ASI memiliki kandungan handmilk dan foremilk. Sama-sama punya manfaat yang besar bagi bayi. Maklum saja kalau orang dahulu bilang begitu. Zaman dimana pengetahuan lebih dikesampingkan dan lebih percaya klenik -sebut saja mitos-.

Belum lagi mitos yang lain soal menyusui yang kalau diceritakan akan semakin panjang. Jadi, bekal utama menjadi ibu baru adalah pintar-pintar untuk mencari info yang lebih akurat. Kalaupun ada dua pendapat, cari lagi sampai ke akarnya, sampai menemukan ilmu yang benar, bukan hanya sekadar percaya mitos.

MPASI (Makanan Pendamping ASI)

Banyak orang salah kaprah soal MPASI ini. Termasuk saya pada awal-awalnya. Rata-rata jika anak sudah melalui tahap makan, anak akan diberikan makanan bahkan melupakan pemberian ASI. Padahal sudah jelas sekali bahwa MPASI singkatan dari makanan pendamping ASI. Yang utama berarti masih ASI. Sedangkan makanan pendamping hanya sebagai perkenalan saja, untuk memulai makanan ke tahap seperti makanan keluarga. Tapi, kembali lagi pada pilihan masing-masing seorang ibu. Kita sepantasnya tidak bisa menjudge apa yang orang lain pilih, karena kita tidak pernah tahu bagaimana keadaan orang tersebut.

Tumbuh kembang anak

Melihat perkembangan tiap anak pasti berbeda. Sama seperti kita orang dewasa yang selalu tidak ingin disama ratakan dengan orang lain. Tiap masing-masing individu memiliki kelebihan dan kekurangannya. Kita sebagai ibu, sebaiknya bukan membanding-bandingkan anak kita dengan anak yang lain. Menjadi ibu baru, tugas kita hanyalah mensuport dan membantu anak untuk bertumbuh kembang dengan lebih baik. Bukan untuk membandingkan loh, ya.

Menjadi ibu baru bagi saya sebenarnya mengasyikan. Asyik karena waktu kita bukan hanya untuk kita dan pasangan saja. Namun bertambah menjadi untuk anak. Apalagi, kalau menjadi ibu baru tanpa bantuan siapapun, mandiri. Sangat saya apresiasikan itu. Jempol dua jari untuk para kaum ibu baru diluar sana.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *