Rokok dan puasa, murahnya harga rokok

Siapa yang tak mengenal tanaman tembakau ? pasti semua orang mengenal. Apalagi, daun tembakau adalah bahan utama sebagai pembuatan rokok. Orang – orang yang sangat suka mengkonsumsi rokok hingga berbungkus – bungkus dalam sehari, pasti akan mengatakan bahwa rokok itu nikmat. Kayak ada yang kurang kalau belum “menghisap rokok”. Aneh bukan ? Kali ini saya akan membahas rokok dan puasa, murahnya harga rokok

Sebetulnya, mengkonsumsi rokok itu, apa enaknya ? kalau menurut saya pribadi, sebagai seorang yang tidak pernah merokok, merokok itu sama sekali nggak ada manfaatnya. Selain karena “rokok itu buang – buang duit” rokok juga membuat menumpuknya penyakit pada tubuh dikemudian hari. Memang, penyakit yang ditimbulkan oleh perokok tidak terlihat setahun atau lima tahun kemudian. Rokok itu menyebabkan penyakit dalam efek jangka panjang. Biaya yang dikeluarkan untuk penyembuhan juga tidaklah murah.

Saya sebetulnya punya kenalan, dia seorang perokok berat. Awal merokok sih karena “penasaran” karena teman seruang di kantornya sering merokok setelah makan. Kesan pertama yang dirasakan memang pait dan tidak enak. Namun, setelah empat kali merasakan rokok terus menerus, akhirnya menjadi nagih dan nagih terus. Sampai akhirnya, dia kemana – mana harus menggunakan tabung oksigen, karena paru – parunya berwarna hitam dan mengkerut. Sangat menakutkan memang. Alih – alih ingin merasakan nikmat sesaat, malah berujung malapetaka berkepanjangan.
Bagaimanapun juga, membahas persoalan tentang rokok dan puasa memang tidak akan pernah habisnya. Pro dan kontra selalu ada.
Bersama Komnas Pengendalian Tembakau, saya menghadiri Diskusi Publik “Rokok dan Puasa, dan Murahnya harga Rokok” dengan sudut pandang dari segi klinis, keuangan, dan konteks keislaman. DIskusi Publik ini bertempat di Tjikini Lima Resto & Cafe Jakarta.
Dalam rangkaian acara diskusi kaitannya rokok dan puasa, telah hadir 4 orang narasumber yang berkompeten dibidangnya yaitu : 
1.   Dr. Adhi Wibowo Nurhidayat, SpKJ (Psikiater RS Jiwa Soeharto Heerdijan, irektur Eksekutif Indonesia Neuroscience Institute/INI)
2.   Dr. Anwar Abbas (Pengurus Pusat Muhammadiyah)
3.   Dr. Abdillah Ahsan, SE, M.Si (Wakil Kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah Universitas Indonesia)
4.   Fuad Baradja (Pengurus Komnas Pengendalian Tembakau dan Therapis)


Diskusi publik yang di buka oleh mbak Nadia sebagai master of ceremony, memulai pemarapan materi dari Dr. Adhi Wibowo Nurhidayat, SpKJ yang selama 20 tahun lebih telah menangani masalah yang berhubungan dengan  narkoba dan aids. Dr. Adhi menjelaskan bahwa nikotin itu zat yang sangat berbahaya. Nikotin menempati urutan ke tiga tingkat bahayanya setelah kokain dan putauw.

“Nikotin pada rokok memiliki adiksi yang sangat kuat sehingga perlu niat yang tinggi untuk berhenti sehingga pada momen puasa dapat menjadi momen spiritual setiap pribadi untuk menghentikan ketergantungan terhadap rokok.”  tegas Dr. Adhi.
Dr. Adhi juga menjelaskan pengaruh nikotin pada perokok menjadikan seseorang mempunyai pengaruh alam rasa dan meningkatkan stimulant pada tubuh, mengurangi kecemasan yang ditimbulkan dan sebagai obat penghilang rasa sakit.
Sebagai seorang Pengurus Pusat Muhammadiyah, Dr. Anwar Abbas menegaskan “Merokok bertentangan dengan dalil-dalil dalam islam, di antaranya mengharamkan segala yang buruk, larangan menjatuhkan diri pada kebinasaan dan perbuatan bunuh diri, larangan berbuat mubazir dan larangan menimbulkan mudarat atau bahaya pada diri sendiri dan orang lain. Itulah kenapa PP Muhammadiyah mengeluarkan fatwa haram pada rokok dan puasa umat islam menjauhkan diri “.
Dr. Anwar Abbas juga mengatakan, dengan hadirnya Ramadhan, para perokok yang sering mengkonsumsi rokok, bisa menggunakan waktu disaat puasa untuk mengurangi konsumsi rokok sebagai niat utama untuk berhenti merokok.
Meskipun masih banyak orang diluar sana yang masih mengkonsumsi rokok tanpa memperdulikan kesehatannya sendiri, beberapa penelitian yang telah dilakukan mengemukakan fakta yang mengejutkan. Bahwa merokok, sama sekali tidak ada manfaat kesehataan untuk tubuh. Sebaliknya, akan membunuh kesehatan tubuh perlahan – lahan.
Wakil Kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah Universitas Indonesia, Dr. Abdillah Ahsan, SE, M.Si juga mengatakan bahwa “kerugian ekonomi untuk perseorangan akibat konsumsi rokok dapat menghilangkan kesempatan untuk konsumsi yang sifatnya lebih produktif misalnya untuk pendidikan, kesehatan dan kebutuhan pokok” tegasnya. Peran serta pemerintah seperti kementerian kesehatan, kementerian pertanian, kementerian perindustrian dan kementerian tenaga kerja sangat diperlukan dalam mengendalikan rokok di pasaran dan sosialisi edukasi tentang rokok kepada masyarakat umum.
Peran serta Pemerintah dalam mengatur harga rokok saat ini masih sangat murah. Hal ini ditunjukan dengan harga rokok per bungkus Rp. 15.000. sedangkan pada tinjauan lapang, pembelian rokok sendiri tidak harus perbungkus. Rokok sangat mudah dibeli perbatang. Sangat disayangkan sebetulnya. Karena dengan harga rokok perbatang, akan sangat mudah dibeli oleh usia anak – anak yang masih di bawah umur. Ini salah satu peran pemerintah untuk mengatur harga rokok. Agar rokok di Indonesia tidak menjadikan alasan utama dalam gejala awal pada kesehatan.
Diskusi public juga dihadiri oleh anggota dari AMKRI (Aliansi Masyarakat Korban Rokok Indonesia) yaitu Bapak Daniel dan Bapak Zainuddin. Mereka menceritakan tentang bahaya merokok yang telah mereka alami. Akibat yang sudah mereka rasakan yaitu pita suara harus rela diangkat. Mau tidak mau, mereka merasakan rasa sakitnya saat berbicara. Ironisnya, Bapak Zainuddin adalah orang yang terkena dampak dari asap rokoknya. Beliau sebagai perokok pasif yang berada di lingkungan para perokok harus menerima pengangkatan pita suaranya.
Pada diskusi yang terakhir, kehadiran narasumber Fuad Baradja sebagai public figur pada sinetron Jin dan Jun era sembilan puluhan, kesibukannya saat ini adalah Therapist SEFT dan Aktivis Penanggulangan Masalah Merokok dibawah naungan Komnas Pengendalian Tembakau.
Beliau bercerita ingin menjadi seorang therapist. Ini berawal dari sakit parah yang ia derita akibat merokok. Beliau kemudian memutuskan untuk berhenti merokok dan mendapatkan informasi tentang terapi untuk berhenti merokok. Terapi tersebut bernama SEFT. Setelah menjalani terapi dan berhasil, beliau belajar menjadi seorang theraphist SEFT serta keinginan kuatnya untuk  mengedukasi kepada setiap perokok agar bisa berhenti merokok dengan metode terapi SEFT.

 

Terapi SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technic) adalah terapi yang membuat tubuh perokok kembali seperti semula sebelum terkontaminasi oleh zat kimia yang dihasilkan oleh rokok, yaitu Nikotin.
Awal yang dirasakan setelah menjalani terapi SEFT, asap rokok  yang dikonsumsi akan sangat terasa pahit, seperti pada awal pertama kali mengkonsumsi rokok. Ini disebabkan karena aliran darah dibuat lancer seperti semula sebelum mengkonsumsi rokok. 

Pusat titik penerapan metode SEFT untuk rokok dan puasa :

  • titik kepala

  • wajah

  • pundak

  • ketiak

Setelah mengikuti rangkaian diskusi, kesimpulan yang dapat kita tarik sebenarnya untuk berhenti merokok secara keseluruhan adalah dimulai dengan niat dari diri sendiri terlebih dahulu. Selebihnya, peran serta keluarga dan lingkungan sekitarlah yang sangat menentukan bagaimana seorang perokok dapat menghentikan konsumsi rokoknya.

Baca juga : menjaga imun tubuh 

21 komentar untuk “Rokok dan puasa, murahnya harga rokok”

  1. beneran ada terapi macam gini? beuh cucok banget nih, kedua orangtuaku dulu perokok,mereka berhenti mostly karena penyakit, trus pada kapok. hahhaa, kalo kakak2ku masih pada ngerokok tuh. bisa di infoin ke mereka. thanks ya infonya 🙂

  2. Aku baru tahu ada terapi kayak gini, boleh dicoba nih aku kasih tahu ke adik yang suka ngerokok secara suamiku memang dari dulu tidak pernah merokok

  3. Butuh niat kuat utk lepas dr rokok. Sulit banget emang. Untung sekarang ada Solusinya dgn terapi seperti ini ya. Smoga banyak org yg bs lepas dr ketergantungan nikotin deh secara bahaya penyakit mengintai terus dr rokok maupun asapnya

  4. Aku kenal beberapa orang perokok, dan memang membuat mereka berhenti itu susah, jadi kalau puasa makan dan minum jauh lebih mudah buat mereka dibanding puasa rokok. Y

  5. AKU BARU TAU INIIII… KEWL SEKALI YA.

    Dr. Anwar Abbas menegaskan "Merokok bertentangan dengan dalil-dalil dalam islam, di antaranya mengharamkan segala yang buruk, larangan menjatuhkan diri pada kebinasaan dan perbuatan bunuh diri, larangan berbuat mubazir dan larangan menimbulkan mudarat atau bahaya pada diri sendiri dan orang lain. Itulah kenapa PP Muhammadiyah mengeluarkan fatwa haram pada rokok agar umat islam menjauhkan diri dari rokok".

  6. Para perokok seharusnya ikut terapi ini. Terutama perokok 'bodoh" yang suka sembarangan ngerokok. Dan, harga rokok seharusnya dibuat lebih mahal lagi. Dibikin mahal banget aja sekalian.

  7. masalah rokok ini yang selalu jadi pertengkaran kecil aku dan suami nih, susah banget disuruh menguranginya. Aku jadi tertarik sama terapi ini, tapi suamiku blm tentu yah, karena org iasaya bisa berhenti merokok itu kalo diniatkan ya mba.

  8. Keinginan berhenti dari diri sendiri itu yang kadang susah, selalu ada alasan untuk ngerokok. Kejadian sama suami, begitu sakit baru berhenti. Sembuh, mulai lagi.

  9. Almarhum bapak saya perokok berat, ndilalah suami gak merokok. Rokok ini pro kontra krn mengenai hajat hdp orang banyak juga. Kakak ipar saya buruh pabrik rokok

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *