Memaafkan kesalahan masa lalu, bisakah ?

Memaafkan kesalahan masa lalu, bisakah ?

Tunggu dulu, kenapa judulnya terlihat ekstrem ? Ada yang salah dengan Memaafkan kesalahan masa lalu ? Adakah yang salah ? Coba sini mengheningkan cipta sebentar bersama saya. Bukan, berdiskusi lebih tepatnya bersama saya. Oke ?

Disini saya bukan enggak mau curhat sebenarnya. Tapi, karena beberapa teman terdekat saya sedang hangat-hangatnya membahas persoalan ini, saya jadi tertarik untuk menulisnya di blog.

Awalnya, sahabat saya, sebut saja si Z, curhat panjang kali lebar di grup chat whatsapp soal kejadian nggak mengenakan dirinya terhadap sesama rekan kerjanya. si Z ini berprofesi sebagai seorang marketing di salah satu perusahaan ternama. Usut punya usut, Z ini awalnya merasa dirinya baik-baik saja saat bekerja di kantor. Namun, setelah menyadari hampir selama semingguan lebih, satu persatu rekan kerjanya menghindari. Z jadi lumayan curiga “kok pada ngehindar”. Kebetulan, Z punya rekan anak magang di ruangannya. Z kepo dengan mencari informasi dari anak magang, diceritain semuanya. Dan membuat Z serasa tertampar. Wow! Ternyata, senior satu divisinya, sebut saja X, enggak suka cara kerja Z yang bekerja terlalu kreatif. Sehingga, banyak sekali pimpinan dari berbagai divisi salut dengan kinerjanya. Padahal, Z ini termasuk junior di divisinya. Tapi, memiliki ide yang bisa menghemat anggaran perusahaannya.

Dari sepenggal cerita diatas, kita bisa tahu bahwa, di zaman serba teknologi ini, kita tidak bisa mengukur seberapa senior atau junior diri pribadi terhadap perkembangan zaman. Setiap individu memiliki keunikan masing-masing. Jika memang tidak menyukai, bukan berarti kita harus membencinya.

Persoalan antara si Z dan X yang semula hanya dari soal “kinerja kreatif” akhirnya berujung “rival”. Menyedihkan bukan ? Padahal si Z ini, sudah berusaha meminta maaf dengan tulus, Z berminta maaf bukan berarti dia menunjukan kelemahannya, tapi menunjukan bahwa dia menghormati seniornya. Tapi, yang namanya sifat manusia siapa bisa menebak ? si X masih belum bisa memaafkan kesalahan masa lalu si Z sampai sekarang. Meskipun di depan semua rekan kerjanya si X “terlihat” memaafkan si Z. Kenyataannya, kejanggalan demi kejanggalan membuat si X menutup segala cara supaya si Z tidak bisa berkembang karirnya.

Saya, sebagai teman si Z merasa gemes dan kesal setelah diceritakan. Padahal, kalau diambil kesimpulan, saya sebenarnya tidak boleh jadi kesal dengan si X. Loh, kenapa ? Yaa karena saya hanya “mendengar” ceritanya dari sudut pandang si Z.

Kejadian yang dialami oleh si Z dan si X pasti pernah dialami hampir semua orang di dunia ini. Ada sisi kelam dari dalam diri kita sendiri untuk memanipulatif otak demi penolakan secara tidak rasional. Hal ini pernah saya alami juga saat dulu masih duduk di bangku sekolah. Namun, dari situ saya belajar, bahwa seribu jalan yang kita tempuh sebaik apapun itu, pasti akan ada orang yang tidak suka dengan jalan kita. Entah itu secara baik atau buruk.

Baca juga : menjadi ibu rumah tangga atau bekerja

Jadi, untuk memaafkan kesalahan masa lalu memanglah tidak mudah, namun juga bukan berarti sulit. Semua itu memang berdasarkan pada inisiatif dari dalam diri kita pribadi. Jika memang kita bisa memaafkan dengan tulus dan iklas, hidup kita terasa lebih enteng kok. Seakan-akan orang akan berkata buruk salah di depan kitapun, kita tidak akan pernah mengungkit-ngungkitnya kembali. Dan kita tidak akan pernah bisa menjadi bagian masa lalu lagi. Bukan begitu ?

Jangan juga, kita memaksakan kehendak orang lain untuk memaafkan kesalahan masa lalu. Karena setiap orang memiliki aturan tersendiri soal kehidupannya masing-masing.

memaafkan kesalahan masa lalu

Sifat orang yang bisa memperbaiki kesalahan masa lalu dengan memaafkan :

Introvert

Seorang introvert lebih senang mengalah dan tidak ingin memperpanjang urusan yang bisa membuat dirinya sendiri resah. Sifat introvert lebih suka “bermain aman”. Dengan kata lain, jika diterapkan di kehidupan sehari-hari memang orang akan lebih suka cara introvert memaafkan masa lalu. Mereka mau mengakui kesalahannya jika memang benar terbukti bersalah. Namun, jika tidak bersalah, mereka hanya mau “mengakhiri” saja untuk memaafkan, supaya masalahnya cepat selesai.

Ekstrovert

Pemilik sifat ekstrovert, hampir memaafkan kesalahan masa lalu dengan cara menyelesaikan secara umum. Mereka lebih senang jika persoalannya bisa disaksikan di ranah publik. Tidak memiliki ketakutan sama sekali soal kesalahan. Bagusnya, mereka bisa mendapatkan masukan secara langsung dari publik dimana letak kesalahan masa lalu. Kekurangannya, jika tidak ada yang mendukung sifat ektrovert, mereka akan mencari cara bagaimana mempublikasikannya kepada orang-orang.

Ambivert

Sedangkan untuk seorang pemilik sifat campuran antara introvert dan ekstrovert, lebih menyukai berfikir secara logis terlebih dahulu soal letak kesalahannya terdapat pada siapa. Sifat ambivert lebih suka mempertimbangkan terlebih dahulu untuk mengambil keputusan mana yang paling baik diantara yang terbaik. Mereka lebih cenderung mau memaafkan masa lalu dengan terbuka dan cenderung menarik kesimpulan, siapa yang benar dan siapa yang salah. Dan ini memakan waktu yang cukup lama karena harus menemukan titik yang pas, supaya tidak mengganjal diantara kedua belah pihak.

Dari hal ini, kalian bisa tahu bahwa kesalahan masa lalu memang akan sangat melekat di pikiran pribadi tiap orang, baik itu hal baik atau buruk.

Jadi, keputusan untuk bisa memperbaiki kesalahan masa lalu dengan memaafkan orang lain adalah, belajar untuk mengiklaskan segala hal yang sudah berlalu.

Bukankah lebih baik memaafkan daripada membenci ?

Baca juga : personal blogger